Kamis, 09 April 2020

Menyambut Ramadhan



Menyambut Bulan Suci Ramadhan
(10/04/2020, 16 Sya’ban 1441 H)

Menyambut Ramadhan (16 sya’ban, 14 hari lagi ramadhan). Orang beriman tentu senang berjumpa bulan ramadhan.  (Menyambut Presiden/tamu penting)

Bulan ramadhan merupakan salah satu nikmat yg sangat agung yang diberikan kepada umat islam untuk mendapatkan rahmat dan ampunan Allah swt.
Perbanyak doa “Allahumma baariklanaa fii rajaba wa sya’baana wa ballighna ramadhana” : ya allah berkahilah kami di bulan rajab dan sya’ban dan sampaikanlah umur kami  bertemu dengan bulan ramadhan.
InsyaAllah ramadhan akan tiba, oleh karenanya setidaknya ada 5 hal yang harus dipersiapkan untuk menyambutnya sebagaiman yang diajarkan oleh para ulama:

1.       Persiapan Ruhiyah (Nurani)
Persiapan Ruhiyah atau persiapan nurani dapat dilalukan dengan cara tazkiyatun nafs/ membersihkan hati dari penyakit2 jiwa sehingga hati nurani akan bersih dari penyakit yang dapat mengganggu ibadah di bulan ramadhan nantinya. 
(as-syams)
qod aflahaman dsakkaha wa qod khoobaman dassaahaa(a  
9. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, 10. dan Sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya. (mengotori dgn penyakit hati ; Penyakit dengki, irihati, arogan, riya, rakus , sombong, dll)

2.       Persiapan Jasadiyah (fisik)
Puasa identik dengan ibadah yang memerlukan fisik yang prima. Orang yang fisiknya kuat akan lancar menjalankan puasa. Oleh karena itu, kita perlu mempersiapkan fisik kita untuk menjalankan ibadah ramadhan dengan lancar walaupun saat bekerja.
Al mu’minul qowwiyu khoirun wa ahabbu ilallahi minal mu’miniszo’iif
“mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah”
(HR. Muslim, Baihaki, Ibnu Majah)

3.       Persiapan Ilmiyah
Persipan ilmiyah / mempersiapkan ilmu atau pengetahuan tentang puasa ramadhan sebagai bekal kita menjalani ibadah ramadhan, terutama ilmu2 tentang hikmah puasa ramadhan, yang membatalkan puasa, tadarus Alquran, sholat tarawih, i’tikaf di mesjid hingga zakat. Kita dapat mengetahui ilmu tentang ramadhan melalui banyak cara, bisa dengan mengikuti pengajian, membaca kitab/buku tentang randhan, menonton tayangan2 keislaman, bertanya pada ahlinya, bisa juga mencari melalui internet. Dengan mengetahui ilmu2 terkait dengan ramadhan kita akan lebih siap melaksanakan amalan-amalan di bulan ramadhan.

4.       Persiapan maliyah (harta)
Mempersiapkan harta di bulan ramadhan bukan berarti untuk membeli makanan yang banyak, melainkan untuk amal ibadah seperti infak/shadaqah , zakat mal maupun zakat fitrah, atau memberi makanan buka puasa untuk orang lain.
Manfaat memberi makan orang berbuka puasa :Mendapatkan pahala berlimpah dari Allah.
Nabi Bersabda : Man Fattaro shoiman kana lahu mislun ajrihi gairo annahu - la yankusu min ajrissoimi syai’an” siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga.

Yang terakhir,
5.       Jangan lupa, persiapan Taubat
Manusia yang baik bukan berarti manusia tersebut tidak pernah melakukan perbuatan salah atau dosa, bohong kalau suami tidak pernah bersalah pada istrinya, bohong kalau istri tidak pernah bersalah pada suaminya, bohong kalau menantu tidak pernah bersalah pada mertuanya, bohong kalau anak tidak pernah bersalah pada orangtunaya, olehnya manusia yang baik adalah manusia yang pernah melakukan perbuatan salah dan dosa kemudian dia kembali kepada jalan yang benar , tentunya melalui proses apa yang dikatakan taubatan nasuha,

Sebagaimana firman Allah : ya ayyuhallasina amanu tubu ilallahi taubatan nasuha ; hai orang2 yang beriman bertobatlah kamu kepada Allah dalam arti kata dalam sebenar-benarnya taubat, apa syarat taubat yang sebenarnya :

1.       Yang pertama meninggalkan perbuatan dosa
2.       Yang kedua menyesali perbuatan dosa, dan
3.       Yang ketiga bertekat dalam hati tidak akan mengulangi perbuatan dosa, yang pernah dilakukan ,

Nabi SAW telah mengingatkan kita dalam sabdanya :
“Kullubni adama khattaun wa khairul khatta’inat tawwabuun ; setiap keturunan adam itu banyak melakukan dosa dan sebaik-baik orang yang berdosa adalah yang bertaubat” Taubat disini mengisyaratkan tata cara seseorang menghadapi bulan ramadhan, dia menyambut ramadhan tanpa beberapa sekat yang akan mengotori bulan ramadhan. Oleh karena itu muslim yang memperhatikan hal ini akan selalu berusaha untuk memohon ampunan kepada Allah SWT agar suci dari dosa. Taubat yang dibutuhkan adalah taubat yang totalitas/ taubatan nasuha
Mudah2an kita yang hadir pada kesempatan siang ini, bersiap menyambut  bulan suci ramadhan dengan melakukan apa yang khatib sampaiakan, insya Allah dengan begitu kitas semua akan mendapatkan berkah dari Allah SWT.

Khutbah Kedua
Alhamdulillaahil ladzii amarona bil ittihadi wal i’tishoomi bihablillaahi jami’an. Wabidz dzikri ni’matihi ‘alainaa idzkunnaa a’daa-an.
Asy-hadu anlaa ilaaha illalloohu wahdahu laa syariikalahu wa-asyhadu anna sayyidinaa muhammadan ‘abduhu warosuluhul mab’uutsu ilaa mardloo tillaahi.
Allahumma sholli ‘alaa sayyidina muhammadin sholaatan kaamilatan wa sallim salaaman taamman ‘alaihi wa ‘alaa aalihi washohbihi wasallim tasliman katsiiran. Ammaa ba’du .
Fayaa ‘ibaadalloohi..
Ittaquullooha wa athi ‘uuhu la’allakum tuflihuun. Faqoola ta’aalaa fii kitaabihil kariim : A’uudzu billaahiminasy syaithoonirrojim, ya ayyuhal ladziina aamanut taqullooha haqqo tuqootihi walaa tamuutunna illaa wa antum muslimun.
Wa qola ta’laa : innallaha wamalaikatahu yusalluna alannabi ya ayyuhal ladzina amanu shollu ‘alihi wasallimu taslima, “ Allahumma sholli wasallim ‘alaa sayyidina muhammadin wa’alaa aalihi wa- arba’atil khulafaa-ir roosyidiin. Abi bakrin wa ‘umaro wa ‘utsmaan wa ‘aliy  wa’alaa saa-irish shohaabati wattaa bi’iina wataabi ‘iittaabi’iina waman tabi ‘ahum biihsaanin ilaa yaumiddin. Wa ‘alainaa ma’ahum birohmatika yaa ar-hamar roohimin.
Doa
1.          Alloohummaghfir lil muslimiina wal muslimat wal mu’miniina wal mu’minat..
2.         Allaumma robbana latusiqkuluubanaa ba’da idz hadaitanaa wahablanaa milladunka rohmatan innaka antal wahhab. (3:8)
3.          Allahumma arinalhaqqa haqqa...
4.          Allahumma inna nas’aluka  salamatan fiddin...
5.          Robbana hablana min aswajinaa wasurri ‘atina ...
6.          Robbana’g firlana wali walidina warhamhum kama robbarna shigoro
7.          Robbana atina fiddunya hasana ...
Subhana robbika robbil issati amma yasifun wasalamun alalmursalin, walhamdulillahi rabbil ‘alamin.

Kamis, 22 Agustus 2019

Anda Guru, Miliki Sense of Humor


Jadi guru jangan terlalu sensitif. Jika anda sudah terlanjur sensitif, anda harus berlatih untuk menguranginya. Jangan sampai terkena gurauan atau omongan sedikit langsung tersinggung, apalagi mencak-mencak di depan siswa. Intinya, jangan menjadi pemarah, pemurung, apalagi pendendam.

Guru yang sensitif dan mudah marah merupakan tipikal guru yang tidak disukai siswa. Bahkan, seringkali siswa akan berdoa agar anda tidak masuk mengajar karena siswa takut, malas, dan boring melihat karakter anda.

Untuk itu, anda harus jadi guru yang memiliki sense of humor. Kalau anda termasuk pribadi yang kaku, pendiam, dan tidak pintar berhumoria, dari sekarang anda mulailah membangun kemampuan humor anda. Untuk membangun sense of humor ada beberapa kiat yang dapat anda lakukan.

Pertama, membaca buku-buku humor. Sekarang sudah banyak terbit buku-buku humor. Harganya relatif murah. Cobalah anda membelih, lalu anda baca. Memang dalam buku itu tidak semua bisa anda praktikkan di kelas. Kalau intonasi dan aksennya tidak tepat, bisa jadi naskah yang sebetulnya sangat lucu dan menggelitik tidak akan membuat siswa terhibur karena anda tidak lucu dalam menarasikannya.

Jika ternyata tidak lucu, anda tidak perlu minder atau berkecil hati. Kadang kita belum berhasil menarasikan dengan lucu karena kita belum memahami substansi humornya. Maka, pelajarilah lagi maksud dari naskah itu.

Langkah kedua dalam membangun sense of humor adalah menyimak guyonan. Ketika anda sedang santai dengan rekan kerja anda di kantor, keluarga anda di rumah, atau tetangga anda, perhatikanlah gurauan-gurauan mereka. Nanti anda akan banyak mendapatkan bahan untuk dijadikan narasi yang mengandung unsur humor. Ingat, dan jika perlu catatlah. Para komedian di dunia ini juga sering menyaksikan komedian yang lain.

Anda juga bisa saja baca serial Abu Nawas, membaca anekdot di koran/majalah atau anda membuat tebak-tebakan sendiri. Bahkan, siswa dalam satu kelas yang sedang anda ajar juga bisa menjadi sumber inspirasi dalam membangun sense of humor anda.

Adapun yang paling penting untuk diperhatikan adalah bahwa sense of humor bukanlah memerankan diri anda layaknya badut atau komedian, melainkan memiliki kepekaan untuk menghibur siswa sehingga belajar-mengajar anda menjadi asyik, tidak hambar, dan tidak bikin siswa bosan.

Akhirnya dengan sense of humor yang baik siswa akan belajar dengan menyenangkan dan tanpa ada tekanan secara psikologis. Dalam bahasa psikologi berkaitan dengan emotional intelligence (EQ), keadaan fun adalah keadaan yang berkaitan dengan emosi positif (Hernowo, dalam Gordon Dryden dan Jeannette Vos,2000)*.

.........
*buku : be a great teacher

Rabu, 17 Juli 2019

Sugesti Ngomong English



HYPNOLEARNING
"Sugesti agar anak lebih tertarik belajar bahasa asing  (English)"

...........................
Ijinkan diri adik2 semakin rileks..., dan biarkan saran-saran yang saya berikan menjadi kenyataan dalam kehidupan adik2 sehari-hari..

karena adik2  menyenanginya dan anda tahu manfaatnya bagi hidup kita, adik2 semakin tertarik belajar (nama bahasa baru yang ingin dipelajari). adik2 mendapatkan bahwa belajar bahasa inggris memberikan kesenangan kepada adik2 dan memberikan nilai tambah dalam kehidupan adik2 sebagai seorang siswa/mahasiswa...

karena adik2 sangat tertarik, setiap hari adik2 merasakan dorongan yang kuat untuk mengasah kemampuan lebih dalam lagi. adik2 menyediakan waktu untuk belajar dan berlatih menggunakan bahasa inggris. karena kemampuan adik2 u belajar semakin pesat dan tinggi,adik2pun semakin cakap/mampu menggunkan bahasa inggris dalam kehidupan adik2 sehari-hari.

Tanpa adik2  menyadarinya semakin adik2 berlatih semakin mudah adik2 mengingat  aturan main dan kosakata bahasa inggris itu dan menggunakannya dalam proses belajar adik2 ...

karena kecerdasan pikiran bawah sadar adik2 yang luar biasa, adik2 semakin menyadari bahwa berbicara, mendengar, membaca, dan menulis  dalam bahasa inggris sebenarnya sama mudahnya seperti saat adik2 berbahasa indonesia. adik2 hanya perlu melatihnya sehingga menjadi bagian dari bawah sadar adik2...

kemampuan adik2 berbicara dalam bahasa inggris semakin lama semakin baik. adik2 meluangkan waktu untuk berlatih bahasa inggris. adik2 menikmati dan percaya diri saat berbcicara dalam bahasa inggris.karena adik2 menyenanginya dan bermanfaat bagi adik2, kemampuan adik2 menggunakan bahasa inggris semakin hari semakin lancar. adik2 sungguh menikmatinya.

sekarang tarik nafas yang dalam dan keluarkan pelan2 lewat mulut, rasakan tubuh adik dari kepala hingga kaki semakin rileks, segar, sehat, dan saat ini juga motivasi dalam diri adik2 semakin kuat untuk menguasai bahasa inggris.

selanjutnya dengarkan saya baik2., bayangkan kembali pertemuan kita tadi pagi, adik2 begitu senang mengikuti materi saya, bermain dan bernyanyi bersama. hal tersebut semakin menambah ketertarikan adik2 pada bahasa inggris., adik2 sungguh bahagia dan adik2 mulai tersenyum [siswa tersenyum],  bahkan pada materi selanjutnya adik2 tetap senang dan mengikuti kelas dengan penuh motivasi dan konsentrasi..

bayangkan adik2 suatu saat kita bermain game bahasa inggris, sebut saja tebak kata, dan ternyata dalam permainan tersebut ada kelompok yang tidak bisa menjawab, kelompok tersebut akhirnya mendapatkan hukuman dengan semua anggota kelompok tersebut di "bedaki" mukanya, itu sangat lucu, lucu sekali dan membuat adik2 semua terbahak-bahak [siswa terbahak-bahak].; hal tersebut kambali meningkatan kesenangan dan motivasi adik2 untuk belajar dan menguasai bahasa inggris.

pada akhirnya dari awal kegiatan hingga selesai adik2 melihat diri adik2 semua serius, senang dan berbahagia belajar bersama kami. Dan diakhir kegiatan kitapun berfoto bersama, pada sesi foto tersebut bayangkan adik begitu senang dan menunjukkan gaya yang sangat gokil, coba bayagkan dan tunjukkan gaya gokil kalian di depan kamera 1,2..3 [siswa bergaya lucu sebagaimana kebiasaan mereka].

Baiklah adik2 semua bawa rasa senang dan motivasi tersebut ke kehidupan nyata adik2. Mulai sekarang dan seterusnya papun yang adik pelajari, lihat, baca, dan dengarkan itu terekam baik dalam ingatan adik-adik semua karena adik2 menyenangi semua itu..

(sugesti ini disampaikan di akhir materi Training Hypnoelarning, sebagai materi penutup "English Camp" yang diselenggarakan oleh SMPS As- Salam Jonjoro Kec.Rilau Ale Kab. Bulukumba, 17/09/2016)

Senin, 15 Juli 2019

Motivasi

(1)

Penemu sikat gigi modern adalah orang Inggris bernama William Addis. Dia memakai tulang yang dilubanginya kecil-kecil, kemudian mengisinya dengan bulu binatang, serta mengelemnya menjadi satu.

William pun menjadi jutawan setelah idenya dikembangkan menjadi sikat gigi berbulu nilon dan diproduksi oleh perusahaan Amerika bernama ‘Du Pont’ pada tahun 1938.

Tahukah Anda, bahwa saat William Addis menemukan konsep sikat gigi, ia sedang mendekam di penjara? Tubuhnya di penjara, tapi pikirannya tidak terpenjara. Sementara banyak orang yang tidak di penjara, tetapi seringkali memenjarakan pikirannya sendiri.Penjara itu berupa kata-kata:
“Tidak mungkin”,
“Tidak bisa”,
“Tidak mau”,
“Tidak berani”, dan tidak tidak lainnya, yang kerap menjadi penghalang kita untuk berkembang.

Sang Pencipta memberikan kita potensi untuk dikembangkan, secara positif dan semaksimal mungkin. Jadi, jangan mengizinkan keadaan apapun memenjarakan pikiran kita.

Mulailah memikirkan sebuah kemenangan daripada sebuah kekalahan.,

#inspirasidanmotivasi

Senin, 17 Juni 2019

Ahli Ibadah yang Rugi

Ada seorang ahli ibadah bernama Abu bin Hasyim yang kuat sekali tahajudnya.
Hampir bertahun-tahun dia tidak pernah absen melakukan sholat tahajud.
Pada suatu ketika saat hendak mengambil wudhu untuk tahajud,

Abu dikagetkan oleh keberadaan sesosok makhluk yang duduk
di bibir sumurnya. Abu bertanya,
“Wahai hamba Allah, siapakah Engkau....????”
Sambil tersenyum, sosok itu berkata;
“Aku Malaikat utusan Allah”.
Abu Bin Hasyim kaget sekaligus bangga karena kedatangan tamu malaikat mulia.
Dia lalu bertanya,
“Apa yang sedang kamu lakukan di sini....??????”

Malaikat itu menjawab,
“Aku disuruh mencari hamba pencinta Allah.”
Melihat Malaikat itu memegang kitab tebal, Abu lalu bertanya;
“Wahai Malaikat, buku apakah yang kau bawa.....?????”

Malaikat menjawab;
“Ini adalah kumpulan nama hamba-hamba pencinta Allah.”
Mendengar jawaban Malaikat, Abu bin Hasyim berharap dalam hati
namanya ada di situ. Maka ditanyalah Malaikat itu.
“Wahai Malaikat, adakah namaku di situ....????? ?”

Abu berasumsi bahwa namanya ada di buku itu, mengingat amalan ibadahnya
yang tidak kenal putusnya. Selalu mengerjakan shalat tahajud setiap malam,
Berdo’a dan bermunajat pd Allâh SWT di sepertiga malam.
“Baiklah, aku buka,”

kata Malaikat sambil membuka kitab besarnya. Dan, ternyata Malaikat itu tidak
menemukn nama Abu di dalamnya. Tidak percaya, Abu bin Hasyim meminta
Malaikat mencarinya sekali lagi.
“Betul … namamu tidak ada di dalam buku ini...!!!!”
Kata Malaikat.

Abu bin Hasyim pun gemetar dan jatuh tersungkur di depan Malaikat.
Dia menangis se-jadi-jadinya.
“Rugi sekali diriku yang selalu tegak berdiri di setiap malam dalam tahajud
dan bermunajat … tetapi namaku tidak masuk dalam golongan para hamba
pecinta Allah,”
ratapnya.

Melihat itu, Malaikat berkata,
“Wahai Abu bin Hasyim.....!!!! Bukan aku tidak tahu engkau bangun setiap malam
ketika yang lain tidur … mengambil air wudhu dan kedinginan pada saat orang
lain terlelap dalam buaian malam. Tapi tanganku dilarang Allâh menulis namamu.”
“Apakah gerangan yang menjadi penyebabnya....??????”
Tanya Abu bin Hasyim.

“Engkau memang bermunajat kepada Allâh, tapi engkau pamerkan dengan rasa
bangga kemana-mana dan asyik beribadah memikirkan diri sendiri. Di kanan
kirimu ada orang sakit atau lapar, tidak engkau tengok dan beri makan.
Bagaimana mungkin engkau dapat menjadi hamba pecinta Allah kalau engkau
sendiri tidak pernah mencintai hamba-hamba yang diciptakan Allâh..??? ?”
kata Malaikat itu.

Abu bin Hasyim seperti disambar petir di siang bolong. Dia tersadar
hubungan ibadah manusia tidaklah hanya kepada Allâh semata (hablumminAllâh),
Tetapi juga ke sesama manusia (hablumminannâs) dan alam.
Semuga manfaat, Amiiiin...
.
Boleh di share biar lebih bermanfaat buat orang banyak ,
kalo pelit di simpen sendiri juga gak apa apa

Rasulullah S.A.W bersabda :
"Barang siapa yang menyampaikan 1 (satu) ilmu saja dan ada orang yang mengamalkannya,maka walaupun yang menyampaikan sudah tiada
(meninggal dunia), dia akan tetap memperoleh pahala.
" (HR. Al-Bukhari)

Minggu, 16 Juni 2019

Medsos, ‘Pak Pos’, dan Pesan Ramadhan

BANYAK yang merasa diuntungkan oleh keberadaan media sosial (medsos). Contoh sisi baiknya, hubungan kekerabatan / pertemanan dari banyak orang menjadi lebih akrab. Atau, berbagai informasi lebih cepat tersiar. Tetapi, tetap berhati-hatilah dalam menggunakannya. Untuk itu, di titik ini, semoga ajaran menahan diri di Ramadhan dapat menyelamatkan kita saat ber-medsos.

Kapan Kritis

Medsos telah membuat banyak orang (merasa) makin pintar tanpa harus membaca banyak buku, koran, dan yang sejenisnya. Berbagai informasi lalu-lalang tiap saat, nyaris 24 jam dalam sehari. Pergerakan informasi sungguh sangat dinamis.

Lewat medsos, semisal WhatsApp (WA), sebuah informasi yang dianggap penting bisa tersebar luas secara viral dalam sekejap. Sebab, banyak orang yang lalu bersedia berperan sebagai ‘Pak Pos’ yang rajin mengantarkan surat.
Lihatlah! Sebuah informasi yang dianggap penting dan diterima seseorang di sebuah group WA, dalam hitungan detik oleh orang tersebut akan ditularkannya ke berbagai group WA lain yang diikutinya. Saat itu, bisa saja niat orang tersebut adalah untuk berbagi (baca: berbuat baik) kepada sesama.

Sementara, orang-orang yang mendapat kiriman informasi itu dan juga merasa mendapatkan ilmu atau pencerahan yang bermanfaat akan bersikap serupa yaitu segera meneruskannya ke berbagai group WA lain yang diikutinya. Demikian siklus perjalanan informasi itu berputar, menyebar sangat cepat bak virus.

Tapi, sayang! Sebagian dari pengguna medsos itu kurang kreatif (untuk tak menyebut malas). Berikut ini contoh sikap kurang kreatif itu. Postingan yang diterima seseorang berjudul “Renungan di Pagi Hari”. Saat di malam hari dia berkesempatan meneruskan postingan itu ke berbagai group yang diikutinya, dia tak mengubah judul itu menjadi “Renungan di Malam Hari”. Maka, bagi yang cermat akan segera tahu jika si pengirim tidak kreatif.

Tak hanya tidak kreatif, tapi bahkan juga tak kritis. Para ‘Pak Pos’ itu secara gegabah meneruskan berbagai postingan yang sejatinya tak bermanfaat. Bisa disebut demikian karena ‘ilmu’ yang dibagikan tak didasarkan kepada referensi yang meyakinkan dan bisa pula karena hanya berupa candaan yang tak bermutu.

Perhatikanlah, sekadar menunjuk tiga contoh berikut ini. Pertama, postingan undangan palsu. Sekitar tiga hari menjelang Ramadhan lalu, banyak orang dibuat masygul dengan beredarnya sebuah undangan “Buka Puasa Bersama” di sebuah hotel mewah yang ternyata hanya palsu meski –mungkin- diniatkan bercanda oleh si pengirim.

Ceritanya, di sebuah group WA muncul postingan dari salah seorang anggotanya. Isinya, mengharap seluruh anggota group berkenan hadir di acara “Buka Puasa Bersama” yang diadakannya di sebuah hotel mewah lengkap dengan alamat dan waktunya. Setelah maksud surat sudah tersampaikan, surat itu diakhiri dengan penjelasan yang menyebutkan bahwa rangkaian kalimat di atas adalah “Contoh dari surat undangan Buka Berbuka Bersama”.

Artinya, kita ‘ditipu”. Setidaknya bagi sebagian yang menerima, postingan itu bisa saja dirasa sangat “mengganggu hati”.

Kedua, postingan yang bermain-main di wilayah ‘sensitif’. Bunyinya: Waspadalah! Menjelang Ramadhan banyak hadits palsu di WA. Beberapa contoh Hadits palsu yang berhubungan dengan Ramadhan yang tahun lalu sudah beredar: “Dan barangsiapa yang menjalani malam² bulan puasa dengan tidak tidur dan tidak mengerjakan amalan² sholeh, itu adalah contoh orang² yang Begadang tiada artinya” (H.R. Oma Irama). “Dan barangsiapa yang di saat berbuka puasa masih berada di jalan, maka orang yang demikian itu tergolong ke dalam golongan orang yang tersesat dalam kemacetan” (H.R. Rasuna Said). Pertanyaannya, buat apa mengambil tema canda dari hal-hal yang ‘sensitif’ seperti itu?

Ketiga, postingan tak bermakna. Intinya, postingan itu berisi permintaan maaf dari seseorang karena akan segera memasuki bukan Ramadhan tetapi disampaikan dengan bahasa yang “sangat asing”. Bacalah postingan ini: “De’ sadejeh Taretan se muljeh…. Angadebih deteng epon bulen se muljheh enggi ka’ dintoh Ramadhan …. beden kauleh sareng kaluarga nyo’onnah saporanah se tadek betesseh atas sajedeh lalampaan se sala tor lopot. Baden kauleh rep ngarep ben parnyo’onan malar mogeh sadejeh Taretan se bedeh e delem group ka’ dintoh eparengi gempang kalaben lancar ngalampae Ibade e bulen Romaden se paleng muljeh”.

Mengertikah Anda dengan postingan di atas? Jika Anda bukan orang Madura, bisa dipastikan Anda tak akan bisa memahami isi postingan tersebut. Pertanyaannya, buat apa memosting sesuatu jika yang kita posting isinya tak dimengerti oleh si penerima?

Apa akibat dari beredarnya informasi yang tak berkualitas seperti itu? Pertama, bagi si pengirim, bisa saja digolongkan bahwa dia telah melakukan sebuah pekerjaan yang tak bermanfaat, suatu aktivitas yang kita diminta untuk meninggalkannya. “Di antara kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat” (HR Tirmidzi dan Ibnu Majah). Kedua, bagi si penerima, dia akan sangat terugikan. Ilmu dia tak bertambah dan waktu dia yang sangat berharga menjadi hilang karena tersita di saat membaca informasi ‘sampah’ tadi.

Bisa saja semua pengirim “postingan yang bermasalah” itu sedang bermaksud bersedekah. Mereka mungkin bersandar kepada ajaran Nabi Muhammad Saw, bahwa segala macam perbuatan baik adalah sedekah. Maka, dengan anggapan bahwa postingannya akan dianggap lucu dan bisa menyenangkan orang, ‘bersedekahlah’ mereka dengan postingan yang aneh-aneh itu. Tentu saja, ini sikap yang perlu kita kritisi.

Sekarang, berbagai sarana komunikasi memang bisa kita gunakan untuk berdakwah. Dengan “hand-phone cerdas” yang kita miliki, kita bisa berdakwah, misalnya dengan cara mengirim ‘nasihat’, ‘hikmah’, atau lainnya yang dirasakan bisa menyentuh hati orang. “Barang-siapa memberi petunjuk pada kebaikan, maka ia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengikuti ajakannya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun juga” (HR Muslim). Meski demikian, tetap harus berhati-hati dalam menulis atau meneruskan sebuah postingan! Tulislah atau pilihlah postingan yang isinya baik dan benar cara penyampaiannya.

Dua Pilihan

Puasa Ramadhan didesain agar kaum beriman bisa menjadi taqwa. Sementara, substansi taqwa adalah sebuah sikap untuk selalu berhati-hati di setiap langkah hidup. Maka, semoga taqwa dapat membimbing kita agar selalu selamat di setiap keadaan termasuk di saat kita berinteraksi di media sosial.

Sungguh, lulusan Universitas Ramadhan itu -orang yang bertaqwa itu- akan selalu berusaha untuk mengamalkan panduan di HR Bukhari – Muslim ini: “Barang-siapa beriman kepada Allah dan hari Akhirat, maka hendaklah berkata yang baik atau diam”.

(Love Islam)

Selasa, 19 Februari 2019

Dimana Kau Berpihak

Dahulu saat Nabi Ibrahim AS dibakar oleh Raja Namrud datanglah burung pipit yang bolak balik mengambil air dan meneteskan air itu di atas api yang membakar Nabi Ibrahim AS.

Cicak yang melihatnya tertawa.
“Hai pipit.!!… bodohnya yang kau lakukan itu.. Paruhmu yang kecil hanya bisa menghasilkan beberapa tetes air saja, mana mungkin bisa memadamkan api itu…??.!!

Burung pipit pun menjawab : “Wahai cicak.. memang tak mungkinlah aku bisa memadamkan api yang besar itu, tapi aku tak mau jika Allah melihatku diam saja saat sesuatu yang Allah cintai dizhalimi. Allah tak akan melihat hasilnya apakah aku berhasil memadamkan api itu atau tidak. Tapi Allah akan melihat dimana aku berpihak”.

Cicak terus tertawa, dan sambil menjulurkan lidahnya ia berusaha meniup api yang membakar Nabi Ibrahim AS.

Memang tiupan cicak tak ada artinya tak menambah besar api yang membakar Nabi Ibrahim AS.

Tapi Allah melihat dimana Ia berpihak

Hikayat ini terjadi sekarang..
dan akan terus berulang
Saat Alquran dinistakan, suara azan permasalahkan, bendera tauhid di bakar dan Pembela Agama dikriminalisasi..

Aku bertanya padamu sahabat..
Dimana kau berpihak..??

Memang, pendapatmu tak akan mengubah sedikitpun takdir Allah..

Tapi Allah akan mencatat dimana kau berpihak

Renungkanlah sejenak..!!


Jumat, 30 November 2018

ICE BREAKING
(Permainan Pembangkit Motivasi dan Semangat Belajar)

Facebook : Hadi Kasmaja Dg Saktyala / WA : 081242850152/ IG : @hadikasmajads

APAKAH ICE BREAKING ITU ?
Ice Breaking, sering juga disebut dengan "Energizer" atau "Refocus", merupakan teknik-teknik yang digunakan dalam suatu forum pelatihan, seminar, pertemuan, meeting, atau proses belajar mengajar untuk memecahkan kebekuan, kejenuhan yang terjadi dalam forum/kelas tersebut dan audien/siswa kembali terkonsentrasikan.

Jika audien/siswa terkonsentrasikan ke pembicara/trainer/guru, maka diharapkan audien/siswa akan bisa aware terhadap materi yang disampaikan pembicara atau trainer. Dengan demikian, peserta akan lebih mudah memahami program secara keseluruhan.

Ice Breaker juga sering disebut sebagai peralihan situasi dari yang membosankan, membuat mengantuk. Menjenuhkan, dan tegang menjadi rileks, bersemangat, tidak membuat mengantuk. Serta ada perhatian dan ada rasa senang untuk mendengarkan atau melihat orang yang berbicara di depan kelas atau ruangan pertemuan.

MENGAPA PERLU ICE BREAKING
Adanya kejenuhan, kebosanan maupun kebekuan suasana dalam proses belajar mengajar. Bisa dibayang jika proses belajar mengajar dimulai jam 7 pagi hingga jam 12 atau jam 1 siang bahkan hingga malam.
Ada keterbatasan konsentrasi seseorang dalam menyerap informasi, kemampuan rata-ratanya 20 - 30 menit.
Beragamnya kondisi para audien (peserta belajar) sebelum memulai proses belajar mengajar.

TUJUAN ICE BREAKING
Mengarahkan otak agar berada pada kondisi gelombang alfa (8 s/d 13 Hz)
Membangun kembali suasana belajar agar serius, santai dan menyenangkan
Menjaga stabilitas kondisi psikis maupun pisik para audien (peserta belajar agar senantiasa segar dan nyaman dalam menyerap informasi.

MANFAAT ICE BREAKING
Terjadi proses penyampaian dan penyerapan informasi secara optimal bahkan maksimal.

Tumbuhnya motivasi dan semangat para trainer/guru dan audien/siswa dalam proses belajar mengajar

Menguatkan hubungan antara trainer/guru dan audien/peserta belajar.

Memperhatikan begitu strategisnya Ice Breaking dalam PBM atau pelatihan, diperlukan suatu strategi untuk menghilangkan kejenuhan dan menarik perhatian peserta kepada pembicara dan materi yang disampaikan. Jika pembicara bisa “menghipnotis” peserta ke arah pembicara maka akan terasa bahwa acara yang berlangsung dalam beberapa jam menjadi tidak membosankan. Bahkan ada yang merasa kurang dengan waktu tatap muka yang disediakan.

MACAM – MACAM ICE BREAKING

1. Brain Gym
(Senam Otak)

2. Energizing (gerak tubuh)
Hitam-hijau - Tembak door
Pak guru bilang - Tembakan Koboi
Apel – Apem - Pijatan angin dan hujan
Membuat deretan - Imajinasi Angka
M2K2-Benar Salah - Samson, laila, harimau.
BKPP - dll

3. Tepuk Tangan
Tepuk semangat (se..se../ma..ma/ se..ma..ngat)
Tepuk Warna
Tepuk Ganjil  Genap,
Tepuk dibalas tepuk
Tepuk Gembira (hore), Tepuk Semangat (yes), Tepuk takjub (waoo, keeren), Tepuk 1,2,3
Tepuk gedor bumi
Tepuk lempar sidol
dll

4. Nyanyian/lagu
Jagalah Hati, cakkodo-kodo, lagu nasional/daerah, dll.

5. Teka – Teki
Hewan apa yang hanya terdiri dari dua huruf? Jawaban : U dan G.
Lemari apa yang bisa masuk kantong baju ? jawaban : lemari-buan.
dll.

6. Kuis
Pemecahan masalah melalui gambar
Pemecahan masalah melalui kasus, dll.

7. Story Telling (Cerita/kisah/Dongeng/humor)
Kejujuran, Kerja keras, Semangat belajar, Hormat kepada orang tua/guru.
Kesyukuran
Pentingnya belajar bahasa inggris, dll.

8. Games / Permainan
Sulap matematika/gambar binatang - Tes fokus jari melekat
Kelipatan tiga - Komunikasi Efektif, dll

9. Kalimat Pembangkit Semangat (quetos/nasehat/ayat/hadis)

Siapa yang berusaha pasti dapat.

Bersemangatlah belajar, karena sukses besok dimulai hari ini.

Allah akan meninggikan derajat bagi orang yang beriman dan berilmu.

Gantungkan cita-citamu setinggi langit! Bermimpilah setinggi langit. Jika engkau jatuh , engkau akan jatuh di antara bintang-bintang.

Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia.

Jagalah pikranmu karena akan menjadi kata-katamu, jagalah kata-katamu karena kan menjadi tindakanmu, jagalah tindakanmu karena kan menjadi kebiasaanmu, jagalah kebiasaanmu karena akan menjadi sifatmu/karaktermu, jagalah sifat/karaktermu karena akan menentukan nasibmu.
dll.

10. Yel - Yel.
           

Dokter Pikiran

Allahu Akbar...gak jenuh bacanya...
Kami sedang antri periksa kesehatan. Dokter yang kami kunjungi ini termasuk dokter sepuh –berusia sekitar tujuh puluhan- spesialis penyakit...
“Silakan duduk,” sambut dr.Paulus.
Aku duduk di depan meja kerjanya, mengamati pria sepuh berkacamata ini yang sedang sibuk menulis identitasku di kartu pasien.

“Apa yang dirasakan, Mas?”

Aku pun bercerita tentang apa yang kualami sejak 2013 hingga saat ini. Mulai dari awal merasakan sakit maag, peristiwa-peristiwa kram perut, ambruk berkali-kali, gejala dan vonis tipes, pengalaman opnam dan endoskopi, derita GERD, hingga tentang radang duodenum dan praktek tata pola makan Food Combining yang kulakoni.

“Kalau kram perutnya sudah enggak pernah lagi, Pak,” ungkapku, “Tapi sensasi panas di dada ini masih kerasa, panik juga cemas, mules, mual. Kalau telat makan, maag saya kambuh. Apalagi setelah beberapa bulan tata pola makan saya amburadul lagi.”

“Tapi buat puasa kuat ya?”

“Kuat, Pak.”

“Orang kalau kuat puasa, harusnya nggak bisa kena maag!”

Aku terbengong, menunggu penjelasan.

“Asam lambung itu,” terang Pak Paulus, “Diaktifkan oleh instruksi otak kita. Kalau otak kita bisa mengendalikan persepsi, maka asam lambung itu akan nurut sendiri. Dan itu sudah bisa dilakukan oleh orang-orang puasa.”

“Maksudnya, Pak?”

“Orang puasa ‘kan malamnya wajib niat to?”

“Njih, Pak.”

“Nah, niat itulah yang kemudian menjadi kontrol otak atas asam lambung. Ketika situ sudah bertekad kuat besok mau puasa, besok nggak makan sejak subuh sampai maghrib, itu membuat otak menginstruksikan kepada fisik biar kuat, asam lambung pun terkendali. Ya kalau sensasi lapar memang ada, namanya juga puasa. Tapi asam lambung tidak akan naik, apalagi sampai parah. Itu syaratnya kalau situ memang malamnya sudah niat mantap. Kalau cuma di mulut bilang mau puasa tapi hatinya nggak mantap, ya tetap nggak kuat. Makanya niat itu jadi kewajiban, ‘kan?”

“Iya, ya, Pak,” aku manggut-manggut nyengir.

“Manusia itu, Mas, secara ilmiah memang punya tenaga cadangan hingga enam puluh hari. Maksudnya, kalau orang sehat itu bisa tetap bertahan hidup tanpa makan dalam keadaan sadar selama dua bulan. Misalnya puasa dan buka-sahurnya cuma minum sedikit. Itu kuat. Asalkan tekadnya juga kuat.”

Aku melongo lagi.

“Makanya, dahulu raja-raja Jawa itu sebelum jadi raja, mereka tirakat dulu. Misalnya puasa empat puluh hari. Bukanya cuma minum air kali. Itu jaman dulu ya, waktu kalinya masih bersih. Hahaha,” ia tertawa ringan, menambah rona wajahnya yang memang kelihatan masih segar meski keriput penanda usia.

Kemudian ia mengambil sejilid buku di rak sebelah kanan meja kerjanya. Ya, ruang praktek dokter dengan rak buku. Keren sekali. Aku lupa judul dan penulisnya. Ia langsung membuka satu halaman dan menunjukiku beberapa baris kalimat yang sudah distabilo hijau.

“Coba baca, Mas: ‘mengatakan adalah mengundang, memikirkan adalah mengundang, meyakini adalah mengundang’. Jadi kalau situ memikirkan; ‘ah, kalau telat makan nanti asam lambung saya naik’, apalagi berulang-ulang mengatakan dan meyakininya, ya situ berarti mengundang penyakit itu. Maka benar kata orang-orang itu bahwa perkataan bisa jadi doa. Nabi Musa itu, kalau kerasa sakit, langsung mensugesti diri; ah sembuh. Ya sembuh. Orang-orang debus itu nggak merasa sakit saat diiris-iris kan karena sudah bisa mengendalikan pikirannya. Einstein yang nemuin bom atom itu konon cuma lima persen pendayagunaan otaknya. Jadi potensi otak itu luar biasa,” papar Pak Paulus.

“Jadi kalau jadwal makan sembarangan berarti sebenarnya nggak apa-apa ya, Pak?”

“Nah, itu lain lagi. Makan harus tetap teratur, ajeg, konsisten. Itu agar menjaga aktivitas asam lambung juga. Misalnya situ makan tiga kali sehari, maka jarak antara sarapan dan makan siang buatla sama dengan jarak antara makan siang dan makan malam. Misalnya, sarapan jam enam pagi, makan siang jam dua belas siang, makan malam jam enam petang. Kalau siang, misalnya jam sebelas situ rasanya nggak sempat makan siang jam dua belas, ya niatkan saja puasa sampai sore. Jangan mengundur makan siang ke jam dua misalnya, ganti aja dengan minum air putih yang banyak. Dengan pola yang teratur, maka organ di dalam tubuh pun kerjanya teratur. Nah, pola teratur itu sudah bisa dilakukan oleh orang-orang yang puasa dengan waktu buka dan sahurnya.”

“Ooo, gitu ya Pak,” sahutku baru menyadari.

“Tapi ya itu tadi. Yang lebih penting adalah pikiran situ, yakin nggak apa-apa, yakin sembuh. Allah sudah menciptakan tubu kita untuk menyembuhkan diri sendiri, ada mekanismenya, ada enzim yang bekerja di dalam tubuh untuk penyembuhan diri. Dan itu bisa diaktifkan secara optimal kalau pikiran kita optimis. Kalau situ cemas, takut, kuatir, justru imunitas situ turun dan rentan sakit juga.”

Pak Paulus mengambil beberapa jilid buku lagi, tentang ‘enzim kebahagiaan’ endorphin, tentang enzim peremajaan, dan beberapa tema psiko-medis lain tulisan dokter-dokter Jepang dan Mesir.

“Situ juga berkali-kali divonis tipes ya?”

“Iya, Pak.”

“Itu salah kaprah.”

“Maksudnya?”

“Sekali orang kena bakteri thypoid penyebab tipes, maka antibodi terhadap bakteri itu bisa bertahan dua tahun. Sehingga selama dua tahun itu mestinya orang tersebut nggak kena tipes lagi. Bagi orang yang fisiknya kuat, bisa sampai lima tahun. Walaupun memang dalam tes widal hasilnya positif, tapi itu bukan tipes. Jadi selama ini banyak yang salah kaprah, setahun sampai tipes dua kali, apalagi sampai opnam. Itu biar rumah sakitnya penuh saja. Kemungkinan hanya demam biasa.”

“Haah?”

“Iya Mas. Kalaupun tipes, nggak perlu dirawat di rumah sakit sebenarnya. Asalkan dia masih bisa minum, cukup istirahat di rumah dan minum obat tipes. Sembuh sudah. Dulu, pernah di RS Sardjito, saya anjurkan agar belasan pasien tipes yang nggak mampu, nggak punya asuransi, rawat jalan saja. Yang penting tetep konsumsi obat dari saya, minum yang banyak, dan tiap hari harus cek ke rumah sakit, biayanya gratis. Mereka nurut. Itu dalam waktu maksimal empat hari sudah pada sembuh. Sedangkan pasien yang dirawat inap, minimal baru bisa pulang setelah satu minggu, itupun masih lemas.”

“Tapi ‘kan pasien harus bedrest, Pak?”

“Ya ‘kan bisa di rumah.”

“Tapi kalau nggak pakai infus ‘kan lemes terus Pak?”

“Nah situ nggak yakin sih. Saya yakinkan pasien bahwa mereka bisa sembuh. Asalkan mau nurut dan berusaha seperti yang saya sarankan itu. Lagi-lagi saya bilang, kekuatan keyakinan itu luar biasa lho, Mas.”

Dahiku berkernyit. Menunggu lanjutan cerita.

“Dulu,” lanjut Pak Paulus, “Ada seorang wanita kena kanker payudara. Sebelah kanannya diangkat, dioperasi di Sardjito.
Nggak lama, ternyata payudara kirinya kena juga. Karena nggak segera lapor dan dapat penanganan, kankernya merembet ke paru-paru dan jantung. Medis di Sardjito angkat tangan.

Dia divonis punya harapan hidup maksimal hanya empat bulan.”

“Lalu, Pak?” tanyaku antusias.

“Lalu dia kesini ketemu saya. Bukan minta obat atau apa.
Dia cuma nanya; ‘Pak Paulus, saya sudah divonis maksimal empat bulan.

Kira-kira bisa nggak kalau diundur jadi enam bulan?’

Saya heran saat itu, saya tanya kenapa.

Dia bilang bahwa enam bulan lagi anak bungsunya mau nikah, jadi pengen ‘menangi’ momen itu.”

“Waah.. Lalu, Pak?”

“Ya saya jelaskan apa adanya. Bahwa vonis medis itu nggak seratus persen, walaupun prosentasenya sampai sembilan puluh sembilan persen,
tetap masih ada satu persen berupa kepasrahan kepada Tuhan yang bisa mengalahkan vonis medis sekalipun.
Maka saya bilang; sudah Bu, situ nggak usah mikir bakal mati empat bulan lagi.
Justru situ harus siap mental, bahwa hari ini atau besok situ siap mati.
Kapanpun mati, siap!
Begitu, situ pasrah kepada Tuhan, siap menghadap Tuhan kapanpun. Tapi harus tetap berusaha bertahan hidup.”

Aku tambah melongo. Tak menyangka ada nasehat macam itu.
Kukira ia akan memotivasi si ibu agar semangat untuk sembuh, malah disuruh siap mati kapanpun.
O iya, mules mual dan berbagai sensasi ketidaknyamanansudah tak kurasakan lagi.

“Dia mau nurut. Untuk menyiapkan mental siap mati kapanpun itu dia butuh waktu satu bulan.
Dia bilang sudah mantap, pasrah kepada Tuhan bahwa dia siap.
Dia nggak lagi mengkhawatirkan penyakit itu, sudah sangat enjoy.
Nah, saat itu saya cuma kasih satu macam obat. Itupun hanya obat anti mual biar dia tetap bisa makan dan punya energi untuk melawan kankernya.

Setelah hampir empat bulan, dia check-up lagi ke Sardjito dan di sana dokter yang meriksa geleng-geleng. Kankernya sudah berangsur-angsur hilang!”

“Orangnya masih hidup, Pak?”

“Masih. Dan itu kejadian empat belas tahun lalu.”

“Wah, wah, wah..”

“Kejadian itu juga yang menjadikan saya yakin ketika operasi jantung dulu.”

“Lhoh, njenengan pernah Pak?”

“Iya.
Dulu saya operasi bedah jantung di Jakarta. Pembuluhnya sudah rusak. Saya ditawari pasang ring.

Saya nggak mau. Akhirnya diambillah pembuluh dari kaki untuk dipasang di jantung.

Saat itu saya yakin betul sembuh cepat. Maka dalam waktu empat hari pasca operasi, saya sudah balik ke Jogja, bahkan dari bandara ke sini saya nyetir sendiri.
Padahal umumnya minimal dua minggu baru bisa pulang.
Orang yang masuk operasi yang sama bareng saya baru bisa pulang setelah dua bulan.”

Pak Paulus mengisahkan pengalamannya ini dengan mata berbinar. Semangatnya meluap-luap hingga menular ke pasiennya ini. Jujur saja, penjelasan yang ia paparkan meningkatkan harapan sembuhku dengan begitu drastis.

Persis ketika dua tahun lalu pada saat ngobrol dengan Bu Anung tentang pola makan dan kesehatan. Semangat menjadi kembali segar!

“Tapi ya nggak cuma pasrah terus nggak mau usaha.
Saya juga punya kenalan dokter,” lanjutnya,
“Dulu tugas di Bethesda, aslinya Jakarta, lalu pindah mukim di Tennessee, Amerika.

Di sana dia kena kanker stadium empat. Setelah divonis mati dua bulan lagi, dia akhirnya pasrah dan pasang mental siap mati kapanpun.

Hingga suatu hari dia jalan-jalan ke perpustakaan, dia baca-baca buku tentang Afrika.
Lalu muncul rasa penasaran, kira-kira gimana kasus kanker di Afrika.
Dia cari-cari referensi tentang itu, nggak ketemu. Akhirnya dia hubungi kawannya, seorang dokter di Afrika Tengah.

Kawannya itu nggak bisa jawab.
Lalu dihubungkan langsung ke kementerian kesehatan sana. Dari kementerian, dia dapat jawaban mengherankan, bahwa di sana nggak ada kasus kanker.
Nah dia pun kaget, tambah penasaran.”

Pak Paulus jeda sejenak. Aku masih menatapnya penuh penasaran juga, “Lanjut, Pak,” benakku.

“Beberapa hari kemudian dia berangkat ke Afrika Tengah.
Di sana dia meneliti kebiasaan hidup orang-orang pribumi. Apa yang dia temukan?
Orang-orang di sana makannya sangat sehat.
Yaitu sayur-sayuran mentah, dilalap, nggak dimasak kayak kita.

Sepiring porsi makan itu tiga perempatnya sayuran, sisanya yang seperempat untuk menu karbohidrat. Selain itu, sayur yang dimakan ditanam dengan media yang organik. Pupuknya organik pake kotoran hewan dan sisa-sisa tumbuhan.

Jadi ya betul-betul sehat.
Nggak kayak kita, sudah pupuknya pakai yang berbahaya, eh pakai dimasak pula. Serba salah kita.

Bahkan beras merah dan hitam yang sehat-sehat itu, kita nggak mau makan.
Malah kita jadikan pakan burung, ya jadinya burung itu yang sehat, kitanya sakit-sakitan.”

Keterangan ini mengingatkanku pada obrolan dengan Bu Anung tentang sayur mayur, menu makanan serasi, hingga beras sehat. Pas sekali.

“Nah dia yang awalnya hanya ingin tahu, akhirnya ikut-ikutan.

Dia tinggal di sana selama tiga mingguan dan menalani pola makan seperti orang-orang Afrika itu.”

“Hasilnya, Pak?”

“Setelah tiga minggu, dia kembali ke Tennessee.

Dia mulai menanam sayur mayur di lahan sempit dengan cara alami.
Lalu beberapa bulan kemudian dia check-up medis lagi untuk periksa kankernya,”

“Sembuh, Pak?”

“Ya! Pemeriksaan menunjukkan kankernya hilang.
Kondisi fisiknya berangsur-angsur membaik. Ini buki bahwa keyakinan yang kuat, kepasrahan kepada Tuhan, itu energi yang luar biasa.

Apalagi ditambah dengan usaha yang logis dan sesuai dengan fitrah tubuh.

Makanya situ nggak usah cemas, nggak usah takut..”

Takjub, tentu saja.

Pada momen ini Pak Paulus menghujaniku dengan pengalaman-pengalamannya di dunia kedokteran, tentang kisah-kisah para pasien yang punya optimisme dan pasien yang pesimis.

Aku jadi teringat kisah serupa yang menimpa alumni Madrasah Huffadh Al-Munawwir, pesantren tempatku belajar saat ini.

Singkatnya, santri ini mengidap tumor ganas yang bisa berpindah-pindah benjolannya.

Ia divonis dokter hanya mampu bertahan hidup dua bulan. Terkejut atas vonis ini, ia misuh-misuh di depan dokter saat itu.
Namun pada akhirnya ia mampu menerima kenyataan itu.

Ia pun bertekad menyongsong maut dengan percaya diri dan ibadah. Ia sowan ke Romo Kiai, menyampaikan maksudnya itu.

Kemudian oleh Romo Kiai, santri ini diijazahi (diberi rekomendasi amalan)
Riyadhoh Qur’an, yakni amalan membaca Al-Quran tanpa henti selama empat puluh hari penuh, kecuali untuk memenuhi hajat dan kewajiban primer.

Riyadhoh pun dimulai. Ia lalui hari-hari dengan membaca Al-Quran tanpa henti.

Persis di pojokan aula Madrasah Huffadh yang sekarang. Karena merasa begitu dingin, ia jadikan karpet sebagai selimut.

Hari ke tiga puluh, ia sering muntah-muntah, keringatnya pun sudah begitu bau.

Bacin, mirip bangkai tikus,kenang narasumber yang menceritakan kisah ini padaku. Hari ke tiga puluh lima, tubuhnya sudah nampak lebih segar, dan ajaibnya; benjolan tumornya sudah hilang.

Selepas rampung riyadhoh empat puluh hari itu, dia kembali periksa ke rumah sakit di mana ia divonis mati.

Pihak rumah sakit pun heran.
Penyakit pemuda itu sudah hilang, bersih, dan menunjukkan kondisi vital yang sangat sehat!

Aku pribadi sangat percaya bahwa gelombang yang diciptakan oleh ritual ibadah bisa mewujudkan energi positif bagi fisik.

Khususnya energi penyembuhan bagi mereka yang sakit.

Memang tidak mudah untuk sampai ke frekuensi itu, namun harus sering dilatih. Hal ini diiyakan oleh Pak Paulus.

“Untuk melatih pikiran biar bisa tenang itu cukup dengan pernapasan.

Situ tarik napas lewat hidung dalam-dalam selama lima detik, kemudian tahan selama tiga detik. Lalu hembuskan lewat mulut sampai tuntas. Lakukan tujuh kali setiap sebelum Shubuh dan sebelum Maghrib.

Itu sangat efektif. Kalau orang pencak, ditahannya bisa sampai tuuh detik.
Tapi kalau untuk kesehatan ya cukup tiga detik saja.”

Nah, anjuran yang ini sudah kupraktekkan sejak lama. Meskipun dengan tata laksana yang sedikit berbeda.

Terutama untuk mengatasi insomnia. Memang ampuh. Yakni metode empat-tujuh-delapan.

Ketika merasa susah tidur alias insomnia, itu pengaruh pikiran yang masih terganggu berbagai hal.

Maka pikiran perlu ditenangkan, yakni dengan pernapasan.
Tak perlu obat, bius, atau sejenisnya, murah meriah.

Pertama, tarik napas lewat hidung sampai detik ke empat, lalu tahan sampai detik ke tujuh, lalu hembuskan lewat mulut pada detik ke delapan. Ulangi sebanyak empat sampai lima kali.

Memang iya mata kita tidak langsung terpejam ngantuk, tapi pikiran menadi rileks dan beberapa menit kemudian tanpa terasa kita sudah terlelap.
Awalnya aku juga agak ragu, tapi begitu kucoba, ternyata memang ampuh. Bahkan bagi yang mengalami insomnia sebab rindu akut sekalipun.

“Gelombang yang dikeluarkan oleh otak itu punya energi sendiri, dan itu bergantung dari seberapa yakin tekad kita dan seberapa kuat konsentrasi kita,” terangnya,

“Jadi kalau situ sholat dua menit saja dengan khusyuk, itu sinyalnya lebih bagus ketimbang situ sholat sejam tapi pikiran situ kemana-mana, hehehe.”

Duh, terang saja aku tersindir di kalimat ini.

“Termasuk dalam hal ini adalah keampuhan sholat malam.

Sholat tahajud. Itu ketika kamu baru bangun di akhir malam, gelombang otak itu pada frekuensi Alpha. Jauh lebih kuat daripada gelombang Beta yang teradi pada waktu Isya atau Shubuh.
Jadi ya logis saja kalau doa di saat tahajud itu begitu cepat ‘naik’ dan terkabul. Apa yang diminta, itulah yang diundang.
Ketika tekad situ begitu kuat, ditambah lagi gelombang otak yang lagi kuat-kuatnya, maka sangat besar potensi terwujud doa-doa situ.”

Tak kusangka Pak Paulus bakal menyinggung perihal sholat segala. Aku pun ternganga. Ia menunjukkan sampul buku tentang ‘enzim panjang umur’.

“Tubuh kita ini, Mas, diberi kemampuan oleh Allah untuk meregenerasi sel-sel yang rusak dengan bantuan enzim tertentu, populer disebut dengan enzim panjang umur. Secara berkala sel-sel baru terbentuk, dan yang lama dibuang.
Ketika pikiran kita positif untuk sembuh, maka yang dibuang pun sel-sel yang terkena penyakit.

Menurut penelitian, enzim ini bisa bekerja dengan baik bagi mereka yang sering merasakan lapar dalam tiga sampai empat hari sekali.”

Pak Paulus menatapku, seakan mengharapkan agar aku menyimpulkan sendiri.

“Puasa?”
“Ya!”
“Senin-Kamis?”

“Tepat sekali! Ketika puasa itu regenerasi sel berlangsung dengan optimal.

Makanya orang puasa sebulan itu juga harusnya bisa jadi detoksifikasi yang ampuh terhadap berbagai penyakit.”

Lagi-lagi,aku manggut-manggut.

Tak asing dengan teori ini.

“Pokoknya situ harus merangsang tubuh agar bisa menyembuhkan diri sendiri.

Jangan ketergantungan dengan obat. Suplemen yang nggak perlu-perlu amat,nggak usahlah. Minum yang banyak, sehari dua liter, bisa lebih kalau situ banyak berkeringat, ya tergantung kebutuhan.

Tertawalah yang lepas, bergembira, nonton film lucu tiap hari juga bisa merangsang produksi endorphin, hormon kebahagiaan. Itu akan sangat mempercepat kesembuhan.

Penyakit apapun itu! Situ punya radang usus kalau cemas dan khawatir terus ya susah sembuhnya.

Termasuk asam lambung yang sering kerasa panas di dada itu.”

Terus kusimak baik-baik anjurannya sambil mengelus perut yang tak lagi terasa begah. Aneh.

“Tentu saja seperti yang saya sarankan, situ harus teratur makan, biar asam lambung bisa teratur juga.

Bangun tidur minum air hangat dua gelas sebelum diasupi yang lain.

Ini saya kasih vitamin saja buat situ, sehari minum satu saja. Tapi ingat, yang paling utama adalah kemantapan hati, yakin, bahwa situ nggak apa-apa. Sembuh!”

Begitulah. Perkiraanku yang tadinya bakal disangoni berbagai macam jenis obat pun keliru.

Hanya dua puluh rangkai kaplet vitamin biasa, Obivit, suplemen makanan yang tak ada ?;kaitannya dengan asam lambung apalagi GERD.

Hampir satu jam kami ngobrol di ruang praktek itu, tentu saja ini pengalaman yang tak biasa. Seperti konsultasi dokter pribadi saja rasanya.

Padahal saat keluar, kulihat masih ada dua pasien lagi yang kelihatannya sudah begitu jengah menunggu.

“Yang penting pikiran situ dikendalikan, tenang dan berbahagia saja ya,” ucap Pak Paulus sambil menyalamiku ketika hendak pamit.

Dan jujur saja, aku pulang dalam keadaan bugar, sama sekali tak merasa mual, mules, dan saudara-saudaranya.

Terima kasih Pak Paulus.

Kadipiro Yogyakarta, 2016

Dari wordpress GUBUGREOT

Boleh di share biar lebih bermanfaat buat orang banyak, kalo pelit di simpen sendiri juga gak apa apa =D

Rasulullah S.A.W bersabda :"Barang siapa yang menyampaikan 1 (satu) ilmu saja dan ada orang yang mengamalkannya,maka walaupun yang menyampaikan sudah tiada (meninggal dunia), dia akan tetap memperoleh pahala." (HR. Al-Bukhari)

Rabu, 21 November 2018

Makna Filosofis Mappaccing



Tujuan dari Mappaccing adalah untuk membersihkan jiwa dan raga calon pengantin, sebelum mengarungi bahtera rumah tangga.
Sekalipun Mappacci bukan merupakan suatu kewajiban agama dalam Islam, tapi mayoritas ulama di daerah Bugis-Makassar menganggapnya sebagai sennu-sennungeng ri decengnge (kecintaan akan kebaikan). Adapun makna filosofis dari beberapa benda yang digunakan dalam mappacing adalah sebgai berikut :
1.    Di depan calon pengantin, diletakkan sebuah bantal yang sering ditafsirkan dan dianggap sebagai simbol kehormatan. Bantal sering diidentikkan dengan kepala, yang menjadi titik sentral bagi aktivitas manusia. Diharapkan dengan simbol ini, calon pengantin lebih mengenal dan memahami akan identitas dirinya, sebagai mahluk yang mulia dan memiliki kehormatan dari Sang Pencipta.

2.    Di atas bantal, biasanya diletakkan sarung sutera yang jumlahnya tersusun dengan bilangan ganjil. Sebagian ulama menyamakan susunan sarung sutera ganjil, dengan Hadis Nabi Saw yang yang berbunyi; “innallaha witrun yuhibbul witro = Allah itu ganjil dan suka yang ganjil”
(a)Sarung sendiri ditafsirkan sebagai sifat istikamah atau ketekunan. Sifat istiqamah sendiri, telah dipraktikkan oleh sang pembuat sarung sutera. Tiap hari, mereka harus menenun dan menyusun sehelai demi sehelai benang, hingga menjadi sebuah sarung yang siap pakai. Dengan sikap istiqamah atau ketekunan ini, diharapkan calon pengantin dapat mengambil pelajaran dan hikmah dari sang pembuat sarung sutera untuk diamalkan dalam kehidupan rumah tangga.
(b) Terkadang juga, sarung dianggap sebagai simbol penutup aurat bagi masyarakat Bugis-Makassar. Jadi, diharapkan agar calon mempelai perempuan senantiasa menjaga harkat dan martabatnya, tidak menimbulkan rasa malu (siri’) di tengah-tengah masyarakat kelak. Fungsi utama sarung sebagai penutup aurat (aib), demikian pula halnya suami-isteri. Istri adalah pakaian dari suami, dan suami merupakan pakaian bagi istri (saling membutuhkan, saling bergantung), sebagaimana yang dijelaskan oleh Al-Qur’an: hunna libasul lakum wa antum libasul lahunna” (QS. Albaqarah:187), Artinya “mereka itu istri-istrimu adalah pakaian bagimu dan kamu pun selaku suami adalah pakaian dari mereka”.
(c) Biasanya terdiri dari tujuh lembar sarung mengandung makna kebenaran, tuju dalam bahasa bugis berarti benar, mattujui berarti berguna. Berdasarkan pengertian ini, para keluarga calon mempelai mengharapkan setelah melangsungkan perkawinan, pada hari-hari mendatang keduanya berguna bagi dirinya sendiri, maupun terhadap keluarga dan orang lain.
3.    diatas sarung sutera diletakkan daun pisang. Pisang adalah simbol serbaguna karena seluruh bagian dari pohon pisang dapat dimanfaatkan oleh manusia. Pisang merupakan tanaman produktif karena sekali kita menanam pisang, akan tumbuh dan berkembang, patah tumbuh hilang berganti. Sama halnya dengan manusia hidup dan berkembang dari generasi ke generasi melalui perkawinan.
memiliki makna yang mendalam bagi manusia pada umumnya. Salah satu sifat dari pisang adalah tidak akan mati atau layu sebelum muncul tunas yang baru. Hal ini selaras dengan tujuan utama pernikahan, yaitu; melahirkan atau mengembangkan keturunan. Karakter lain dari pisang, yaitu; satu pohon pisang, dimungkinkan untuk dinikmati oleh banyak orang. Dengan perkawinan, diharapkan calon pengantin berguna dan membawa mampaat bagi orang banyak.

4.    Diatas daun pisang, terkadang diletakkan daun nangka. Daun nangka tentu tidak memiliki nilai jual, tapi menyimpan makna yang maendalam. Anregurutta di Bone pernah berkata dalam bahasa Bugis; Dua mitu ri yala sappo ri lalenna atuwongnge, iyanaritu; unganna panasae (lempuu) sibawa belo belona kanukue (paccing). Maksudnya, dalam mengarungi kehidupan dunia, ada dua sifat yang harus kita pegang, yaitu; Kejujuran dan Kesucian. Jadi, dalam mengarungi bahtera rumah tangga, calon pengantin senantiasa berpegang pada kejujuran dan kebersihan yang meliputi lahir dan batin. Dua modal utama inilah yang menjadi pegangan penting, bagi masyarakat Bugis-Makassar dalam mengarungi bahtera rumah tangga. ”Itulah mengapa upacara ’Mappacci’ atau mensucikan diri menjadi sesuatu yang harus dijalani dalam mengawali prosesi pernikahan Bugis-mks.

Daun nangka. Nangka adalah simbol cita-cita, dalam bahasa Bugis disebut ‘panasa’ yang mengandung makna mamminasa, yang memiliki arti tekad dan cita-cita.

5.    Diatas daun pisang, terkadang juga diletakkan gula merah dan kelapa muda. Dalam tradisi masyarakat Bugis-Makassar, menikmati kelapa muda, terasa kurang lengkap tanpa adanya gula merah. Sepertinya, kelapa muda sudah identik dengan gula merah untuk mencapai rasa yang nikmat. Seperti itulah kehidupan rumah tangga, diharapkan suami-istri senantiasa bersama, untuk saling melengkapi kekurangan dan menikmati pahit manisnya kehidupan duniawi.
6.    Daun paccing/pacar adalah simbol kebersihan atau kesucian karena daun pacci itu digunakan sebagai pemerah kuku atau penghias kuku, belo-belo kanuku. Sebagaimana yang tercantum dalam pantun Bugis tadi yang berbunyi “DUA MI UWALA SAPPO, BELO NA KANUKUE, UNGANNA PANASAE”. Terjemahan bebasnya : hanya dua kujadikan perisaiku yaitu pacci (kesucian) dan lempu’(kejujuran). Peribahasa ini berlaku bukan hanya dalam hal pernikahan, tetapi hadir dalam setiap dimensi kehidupan masyarakat Bugis.
7.    Benno ditaruh dalam sebuah piring/mangkok dan diletakkan berdekatan dengan tempat daun pacci. Benno memiliki makna agar calon mempelai nantinya setelah berumah tangga dapat berkembang dan berketurunan yang dilandasi cinta kasih, penuh kedamaian dan kesejahteraan.
8.    Terakhir, Mappacci juga dilengkapi dengan lilin sebagai simbol  penerangan dan pengabdian (sebagi seoarng istri-meninggalkan masa lajang); digunakan sewaktu gelap sebagai penerang dan sebagai simbol pengabdian terhadap keluarga, masyarakat, agama, bangsa, dan negara.

9.    Tabur beras, beras adalah makanan pokok melambangkang kesejahteraan dan kesuburan, kuning dilambangkan emas; kemulian, tabur beras di simbolkan sebagai harapan agar mempelai wanita mendapatkan berkah kesejahteraan dalam beruma tangga.

Demikian penjelasan filosofis dari beberapa benda/peralatan yang mengiringi proses mappaccing. walau kadang masih banyak lagi peralatan yang biasa dipakai masyarakat sesuai adat dan kebiasaan mereka, namun secara umum peralatan yang saya sebutkan diatas, standar yang sering digunakan dibebrapa daerah bugis-makassar.

Sebaik-baik manusia adalah mereka yang bermanfaat buat orang lain.

Sebaik-baik manusia adalah mereka yang bermanfaat buat orang lain.